BELAJAR DARI RASULULLAH SAW TENTANG BAGAIMANA MENCETAK GENERASI YANG RABBANI
Dalam mencetak generasi yang rabbani, kita harus meniru sepak terjang Rasulullah saw. Beliau menentukan khalifah penggantinya yakni, Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali. Sepertinya, penentuan ini mengandung unsure nefotisme. Abu Bakar dan Umar adalah mertua Rasullulah, sedangkang Utsman dan Ali adalah menantu beliau. Tapi nefotisme ini dibenarkan, karena para khulafaurrasyidin adalah orang-orang pilihan yang langsung dikader oleh Rasul dan mendapat petunjuk dari Allah SWT. Rasul bersabda, “Kalian harus memegang sunnahku, ajaranku, dan ajaran khulafaurrasyidin yang mendapat hidayah dan petunjuk Allah SWT”.Daripada mengambil orang luar yang tidak jujur, lebih baik mengambil pemimpin dari kader inti yang telah mengalami tahap penggeblengan yang ketat langsung dari Rasul sendiri. Karena itu, dalam sejarah peradaban islam, wafatnya rasulullah bukanlah menjadi tonggak kemunduran bagi perkembangan dan penyebaran syiar Islam, tapi menjadi tonggak besar bagi perkembangan islam ke penjuru dunia. Buktinya, Abu Bakar bisa tampil didepan umat yang kala itu sangat bersedih dan berputus asa atas kepergian Rasul, dengan mengatakan: “Barang siapa yang menyembah Muhammad saw, Muhammad telah meninggal dunia dan terbujur kaku. Tapi barang siapa yang menyembah Allah SWT, Allah akan tetap hidup selama-lamanya.” Pernyataan ini adalah buah kaderisasi dan pendidikan dari Rasulullah saw.
Lain lagi dengan bentuk kaderisasi Rasul terhadap ahlu shuffa’ yakni, sekelompok pemuda miskin yang rajin dan gigih dalam menuntut ilmu. Mereka tinggal di masjid, dengan ruangan khusus. Mereka seperti, Anas bin Malik, Abu Hurairah dan banyak pemuda lain dari penjuru Arab. Selama belajar, Rasul memberikan materi keilmuwan dan akhlakul karimah. Sehingga kadar keilmuwan dan akhlak khulafaurrasyidin terkadang kalah dari ahlu shuffa’ ini. Tapi, khulafaurrasyidin memiliki keunggulan dari sisi kepemimpinan dan perjuangan jihad fi sabilillah.
Jadi dalam kaderisasi, Rasul saw melakukan pembidangan. Rasul memilah para santrinya. Minsalnya si A cocok menjadi pemimpin, maka ia dididik dan dipersiapkan menjadi khalifah, pejabat atau kepala daerah. Si B lebih cocok menjadi ulama, ilmuwan dan pemikir, sehingga ia pun disiapkan dan dididik menjadi ulama yang juga berperan sebagai penasehat penguasa. Ada juga yang disiapakan menjadi penglima perang karena unggul di bidang militer, atau menjadi qadi (hakim) karena tegas dalam penegakkan hukum.
Dalam kaderisasi, Rasul tidak melakukannya dengan serampangan, tapi menggunakan metode tersendiri yang efektif. Karena itu, meski Anas bin Malik dan Abu Hurairah memiliki keluasaan ilmu dan akhlak terpuji, mereka tidak pernah diangkat menjdi khalifah atau pejabat. Mereka disiapkan menjadi ulama, penyebar Islam ke penjuru dunia dan memberi nasihat pada khalifah.
Demikian juga dengan Muadz bin Jabal, sahabat Rasul yang dipercaya menyebarkan Islam ke jazirah Arab. Pada saat Rasul, Muadz sedang berada di Yaman. Juga dengan Saad bin Abi Waqas yang baru menginjakkan kakinya di China untuk menjalankan dakwah yang pertama kalinya di Negeri Tirai Bambu ini, tiba-tiba mendengar kabar Rasul telah meninggal. Bukannya berputus asa, kabar ini justu membuat mereka bersemangat dalam berjuang.
Itulah sebagian dari banyak hasil kaderisasi Rasulullah terhadap generasi-generasi yang diharapkan dapat menyebarkan Islam ke segala penjuru dunia. Dan semua itu berhasil. Semoga kita dapat mengambil contoh dari sepak terjang Rasul, karna sebaik-baiknya contoh hanyalah mencontoh Rasulullah saw.
Sumber: Majalah Islam Sabili
Tulisan ini pernah dimuat di Buletin Mizan LPI. Tapi karna ada hubungannya dengan “Leadership”, maka ana masukin aja ke blog ini…